Langkau ke kandungan utama

JEJAK IBNU BATUTAH.

BERKUNJUNG KE KAMPUNG IBNU BATUTAH DI TANGIER MOROCCO.


Hati, jiwa atau roh yang hidup sangat luar biasa hubungan dengan Tuhan dan perihatin sesama manusia. Hubungan dengan Tuhan dan hubungan sesama manusia yang berlaku dengan hati akan melahirkan sesuatu yang indah. Perhubungan yang terbina melalui hati akan berlaku hubungan yang sangat hebat baik hubungan dengan Tuhan dan hubungan sesama manusia. Membina sesuatu dengan hati adalah sejati. Hati yang terang-benderang seperti itu dimiliki oleh para ‘ariffin, muqarrobin dan solehin. Hati mereka dapat melihat dan betul-betul mengenal sifat-sifat keagungan Allah. Karena itu mereka benar-benar dapat menghambakan diri kepada Allah SWT dan memberikan khidmat sesama manusia.


Sebaliknya ada juga manusia yang hatinya gelap (buta) tidak dapat melihat dan mengenal Allah. Hal itu juga difirmankan oleh Allah SWT : Terjemahannya : Adakah orang yang mengetahui bahwasanya apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu itu benar sama seperti orang yang buta (mengetahui)? Hanyalah orang-orang yang berakal saja yang dapat mengambil pelajaran.(Ar Ra’d : 19)


Berkunjung ke kampung Ibnu Batutah iaitu di Tangier, Morocco. Terdapat beberapa penjelajah dunia iaitu Marco Polo atau pun Christopher Colombus. Namun sebenarnya tidak dapat menandingi seorang tokoh penjelajah muslim Ibnu Batutah telah melakukan perjalanan lebih dari 117.000 kilometer. Nama lengkapnya, Abu Abdullah Muhammad bin Battutah(bahasa Arab: أبوعبدﷲ محمد إبن بطوطة, Abu Abdullah Muhammad ibn Bathuthah) atau juga dieja Ibnu Batutah (24 Februari 1304 - 1368 atau 1377) adalah seorang pengembara Berber Maroko. Atas dorongan Sultan Morocco Ibnu Batutah mendiktekan beberapa perjalanan pentingnya kepada seorang sarjana bernama Ibnu Juzay, yang ditemuinya ketika sedang berada di Iberia. Meskipun mengandung beberapa kisah fiksi, Rihlah merupakan catatan perjalanan dunia terlengkap yang berasal dari abad ke-14.


Hampir semua yang diketahui tentang kehidupan Ibnu Batutah datang dari dirinya sendiri. Ke mana pun dia pergi mendapat perhatian masyarakat terutamanya orang penting di tempat yang di kunjungi. Rahsia nya adalah membersihkan hati daripada sifat mazmumah dan menanam sifat-sifat mahmudah. Kerana dengan kaedah ini saja hati-hati manusia akan dapat ditawan. Dunia akan selamat dan aman makmur. Hati cinta dengan Allah tapi dunia dalam tangan. Hati rindu dengan Allah tapi dunia dapat ditadbir dan diuruskan. Kaki berpijak di bumi, Meskipun dia mengklaim bahwa hal-hal yang diceritakannya adalah apa yang dia lihat atau dia alami, kita tak boleh tahu kebenaran dari cerita tersebut. Lahir di Tangier, Morocco antara tahun 1304 dan 1307, pada usia sekitar dua puluh tahun Ibnu Batutah berangkat haji—ziarah ke Mekah. 


Setelah selesai, dia melanjutkan perjalanannya hingga melintasi 120.000 kilometer sepanjang dunia Muslim (sekitar 44 negara modern).Perjalanannya ke Mekah melalui jalur darat, menyusuri pantai Afrika Utara hingga tiba di Kairo. Pada titik ini ia masih berada dalam wilayah Mamluk, yang relatif aman. Jalur yang umu digunakan menuju Mekah ada tiga, dan Ibnu Batutah memilih jalur yang paling jarang ditempuh: pengembaraan menuju sungai Nil, dilanjutkan ke arah timur melalui jalur darat menuju dermaga Laut Merah di 'Aydhad. Tetapi, ketika mendekati kota tersebut, ia dipaksa untuk kembali dengan alasan pertikaian lokal.


Kembail ke Kairo, ia menggunakan jalur kedua, ke Damaskus (yang selanjutnya dikuasai Mamluk), dengan alasan keterangan/anjuran seseorang yang ditemuinya di perjalanan pertama, bahwa ia hanya akan sampai di Mekah jika telah melalui Suriah. Keuntungan lain ketika memakai jalur pinggiran adalah ditemuinya tempat-tempat suci sepanjang jalur tersebut -- Hebron, Yerusalem, dan Betlehem, misalnya—dan bahwa penguasa Mamluk memberikan perhatian khusus untuk mengamankan para peziarah.


Setelah menjalani Ramadhan di Damaskus, Ibnu Batutah bergabung dengan suatu rombongan yang menempuh jarak 800 mil dari Damaskus ke Madinah, tempat dimakamkannya Muhammad. Empat hari kemudian, dia melanjutkan perjalanannya ke Mekah. Setelah melaksanakan rangkaian ritual haji, sebagai hasil renungannya, dia kemudian memutuskan untuk melanjutkan mengembara. Tujuan selanjutnya adalah Il-Khanate (sekarang Iraq dan Iran.

Gambaran Ibnu Batutah secara interaktif


Dengan cara bergabung dengan suatu rombongan, dia melintasi perbatasan menuju Mesopotamia dan mengunjungi najaf, tempat dimakamkannya khalifahkeempat Ali. Dari sana, dia melanjutkan ke Basrah, lalu Isfahan, yang hanya beberapa dekade jaraknya dengan penghancuran oleh Timur. Kemudian Shiraz dan Baghdad(Baghdad belum lama diserang habis-habisan oleh Hulagu Khan).
Di sana ia bertemu Abu Sa'id, pemimpin terakhir Il-Khanate. Ibnu Batutah untuk sementara mengembara bersama rombongan penguasa, kemudian berbelok ke utara menuju Tabriz di Jalur Sutra. Kota ini merupakan gerbang menuju Mongol, yang merupakan pusat perdagangan penting.


Setelah perjalanan ini, Ibnu Batutah kembali ke Mekah untuk haji kedua, dan tinggal selama setahun sebelum kemudian menjalani pengembaraan kedua melalui Laut Merah dan pantai Afrika Timur. Persinggahan pertamanya adalah Aden, dengan tujuan untuk berniaga menuju Semenanjung Arab dari sekitar Samudera Indonesia. Akan tetapi, sebelum itu, ia memutuskan untuk melakukan petualangan terakhir dan mempersiapkan suatu perjalanan sepanjang pantai Afrika.Menghabiskan sekitar seminggu di setiap daerah tujuannya, Ibnu Batutah berkunjung ke Ethiopia, Mogadishu, Mombasa, Zanzibar, Kilwa, dan beberapa daerah lainnya. Mengikuti perubahan arah angin, dia bersama kapal yang ditumpanginya kembali ke Arab selatan. 


Setelah menyelesaikan petualangannya, sebelum menetap, ia berkunjung ke Oman dan Selat Hormuz. Setelah selesai, ia berziarah ke Mekah lagi.Setelah setahun di sana, ia memutuskan untuk mencari pekerjaan di kesultanan Delhi. Untuk keperluan bahasa, dia mencari penterjemah di Anatolia. Kemudian di bawah kendali Turki Saljuk, ia bergabung dengan sebuah rombongan menuju India. Pelayaran laut dari Damaskus mendaratkannya di Alanya di pantai selatan Turki sekarang. Dari sini ia berkelana ke Konya dan Sinope di pantai Laut Hitam.Setelah menyeberangi Laut Hitam, ia tiba di Kaffa, di Crimea, dan memasuki tanah Golden Horde. Dari sana ia membeli kereta dan bergabung dengan rombongan Ozbeg, Khan dari Golden Horde, dalam suatu perjalanan menuju Astrakhan di Sungai Volga.


Kita mesti merasa bahwa diri kita adalah sebagai hamba dalam melaksanakan perintah suruhan dan larangan dari Allah. Yang penting adalah rasa kehambaan. Ibadah yang sebenarnya adalah yang berasal dari rasa kehambaan. Kalau waktu beribadah itu kita tidak merasa hina dan tidak merasa hamba, tetapi merasa besar diri, sombong, marah, dengki, maka amalan lahir itu bukan lagi dinilai ibadah. Sama halnya dengan seorang kuli yang menghadap tuannya dengan rasa besar diri, dengan bertolak pinggang. Bukankah lebih baik bila ia tidak menghadap, sebab tentu akan menimbulkan kemarahan tuannya.


Ulasan

Catatan popular daripada blog ini

TETAMU ALLAH

MENJADI TETAMU ALLAH.

Tetamu Allah adalah satu gelaran sangat istemewa dalam Islam.  Allah dan Para Rasul sendiri memberikan layanan istemewa kepada tetamu. Dalam Islam wajib melayani tetamu yang datang bertamu ke tempat kita. Bagi umat Islam yang tahu kelebihan gelaran tersebut mereka akan berusaha dan memasang cita-cita untuk mendapat menjadi "Tetamu Allah ". Manusia di dunia ini dapat menjadi tetamu negara sebagai VIP itu pun manusia sudah rasa sangat berharga dan istemewa. Kerana menjadi tetamu VIP akan menerima layanan lima bintang. 

Betapalah apabila manusia kalau dapat menjadi tetamu Allah ia akan merasakan sepanjang hidupnya bahkan ia akan diberikan nilai sampai ke  Akhirat. "Pergi ke Makkatul Mukarramah tempat yang bersejarah. Manunaikan ibadah kemuncak rukun Islam yang lima Di sana umat Islam menjadi tetamu-tetamu Allah Kenalah menjaga adab-adabnya dengan sempurnanya". ( sedutan madah Abuya Imam Ashaari Muhammad At Tamimi ).

Satu istilah yang disebut oleh Allah d…

KEAJAIBAN SUNGAI FURAT DAN DAJLAH TANDA KIAMAT.

KEAJAIBAN SUNGAI FURAT DAN DAJLAH TANDA KIAMAT.
(Sungai Dajlah).

Mengimbau kembali XPDC penulis ke Iraq melalui jalan darat dari Jordan pada 9 januari 1990. Menaiki kereta jenis GMC yang boleh memuatkan 9 penumpang. Kali ini penulis hendak kongsikan maklumat berkaitan dengan sejarah Sungai Furat dan Dajlah. Rujukan kebanyakkan dari risalah-risalah yang di terbitkan oleh kerajaan Iraq. Perjalanan darat dari Jordan ke Iraq mengambil masa 12 jam. Sepanjang perjalanan terlalu banyak sekatan tentera di dua buah negara tersebut. Terutamanya semasa berada di kawasan Iraq. Sejarah purba dan sejarah moden Iraq banyak berkaitan dengan sungai tersebut. Furat dan Dajlah merupakan antara sungai yang memiliki ikatan sejarah yang kuat dengan ajaran Islam. 

Sungai yang menjadi sumber mata air di Anatolia, Turki, dan bermuara di Teluk Persia itu berkali-kali disebutkan dalam berbagai hadis. Sungai Furat juga dikaitkan dengan Nabi dan rasul sebelum Nabi Muhammad SAW. Ia juga dikaitkan dengan tanda kiamat s…

ASAL USUL KAMPUNG DATUK KERAMAT.

PUSAT PENGAJIAN ABUYA PRAKTIKAL.
( Pasar Datuk Keramat dikaitkan dengan pasar Siti Khadijah Kelantan ).

BAGI warga kota, nama Kampung Datuk Keramat memang tidak asing lagi, bukan saja kerana ia antara kawasan perkampungan Melayu terbesar di ibu negara, tetapi ia juga adalah syurga makanan. Sebut saja makanan apa, pasti dapat dijumpai di situ.Begitu juga setiap kali kedatangan bulan Ramadan, Kampung Datuk Keramat bertukar wajah menjadi pesta makanan dengan ratusan gerai menjual pelbagai jenis makanan tempatan terutamanya di kawasan Pasar Datuk Keramat. Dalam kemeriahannya sebagai syurga makanan, ramai yang tidak tahu asal-usul nama penempatan ini. BH Plus menyingkap maksud di sebalik nama perkampungan ini. 

ABUYA memulakan jemaah pengajiannya di kampung Datuk Keramat. Ketika itu kumpulan pengajian Abuya dikenali dengan pengajian ".RUMAH PUTIH". Dipanggil rumah putih kerana rumah tersebut berwarna putih. Di markaz tersebut diadakan perjumpaan dikalangan ahli pengajian. Program tet…